Rabu, 22 Februari 2017

Cerita Pendek "Seberkas Rindu yang Terabai"

Seberkas Rindu Yang Terabai
            Aku melihatnya siang ini. Kibaran rambutnya tertiup angin nakal yang menyembulnya. Sayang, pemiliknya enggan mengekspose kecantikan alaminya. Dia juga menghentikan pendidikannya sejak ia kehilangan orang tuanya. Hei, lihatlah aku, bukankah ini terdengar seperti aku selalu menguntitnya karena mengetahui tentangnya? Begitu bukan?
            Ya, aku memang sudah cukup lama mengagumi sosok ini. Entahlah sejak kapan dan karena apa, aku tidak begitu mengingatnya. Tapi kini, aku yakin akan dentuman jantung yang tak beraturan ini saat melihat gadis pemilik mata sayu itu. Mata yang tampak sayu namun di dalamnya menyimpan penuh makna. Bukan makna yang bisa diartikan sekedar saja. Namun arti yang lebih dari semua itu, lebih dari apa yang dapat orang lihat. Makna yang bahkan tak kasat mata. Aku… sangat tinggi menyematkan kekaguman ini padanya.
            Sudah sejam lebih aku terduduk disini, dengan segelas latte yang menemaniku sejak kutancapkan pantatku di kursi anyam ini. Dari tempat inilah aku dengan leluasa memperhatikannya. Gerak itu…. Diam itu… senyum itu… aku sangat menyukai segala tentangnya. Bahkan murungnyapun aku selalu mengabadikannya. Namun, tak pernah ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya, atas diamnya dan bahasa tubuh yang tenang itu.
            Dia seorang barista di café yang sering kusinggahi ini. Hh, bahkan aku lupa bahwa aku belum menceritakannya sejak tadi bukan? Aku hampir saja terlupa hanya karena terlalu hanyut pada perasaan ini. Di ruang bernuansa coklat ini, aku bukan hanya diam meski hanya duduk tak bersuara. Tanganku masih dengan asyik meliuk-liukkan pensil untuk menyelesaikan sketch yang selalu kubuat setiap kali datang. Terkadang aku menitipkan hasil karyaku untuknya. Setidaknya agar dia tahu kecenderunganku padanya. Namun dia bukan orang yang peduli akan hal itu. Kupikir, dia bukan orang yang akan respect pada rasa yang mungkin dinilainya abal-abal ini. Yah, aku cukup mengerti itu, pun menghargai itu.
            Tempo hari, seorang pelayan yang selalu kutitipi lukisan untuk kuserahkan padanya, menanyakan padaku mengenai kesungguhanku. “ah, semestinya kau tahu sebanyak apa kekuranganku dan sebaik apa dia. Aku hanya seorang pemuja rahasia, baginya.” Begitulah aku menjawabnya. Dia hanya tersenyum lantas kembali bekerja setelah menyajikan segelas latte untukku.
            Entahlah, rasa yang dititipkan Tuhan untukku telah terlalu lama kupelihara. Sehingga aku berlarut-larut dalam diam yang tak berkesudahan. Aku bukan naïf dengan terus memendam perasaan ini sendiri. Hanya saja, aku ingin menjaga i’tiqad dari perasaan ini. Ingin rasanya kudatangi rumahnya dan menyampaikan salam resmiku untuk kedua orang tuanya. Hanya saja, bukankah sudah kukatakan bahwa ia telah tak beribu dan berayah. Dia seorang diri bertahan untuk menyambung hidupnya. Tanpa ia tahu, ia juga telah menyelamatkan hidupku yang harus menyematkan perasaan itu untuknya. Entah, aku belum cukup tahu tentang apa yang ia ingin gapai di dunia ini. Karena tak ada alasan yang logis baginya untukku mengenalnya lebih jauh. Apalagi dia bukan sembarang orang yang bisa dengan mudah didekati. Bagiku dia barang suci yang hanya boleh disentuh ketika ada kehalalan yang mengiringi nantinya. Aku masih memimpikannya. ‘jiwa yang tak pernah lupa kurindu, tunggu aku menyetarakan diri denganmu.’ batinku yang masih menggerutu dalam hati.
            Kerap kali kudengar tetanggaku yang berada di desa menasehati anaknya, “nanti cari istri yang berhijab. Agar terjaga aurat dan fitrahnya.” Setidaknya aku sering kali mendengarnya. Namun, jika kutelisik ulang, apakah hijab menjadi tolak ukur keimanan seseorang? Bahkan diera yang serba modern ini, banyak sekali ditemui wanita berhijab hanya untuk mengikuti trend mode atau bahkan mendekati zina dengan mengabaikan hijabnya itu. Kupikir, masih banyak lagi hal yang perlu direnungkan tentang perkataan tetanggaku itu. Setelah kurenungkan itulah, kurasa hijab bukanlah tolak ukur untuk fitrahnya seseorang.
            Aku kembali mendatanginya setiap kali pulang dari jam kerjaku. Singgah sejenak untuk melepas lelah dan menyandarkan penat selama bekerja seharian penuh. Melihat teduh wajahnya sesekali mengingatkanku pada mendiang adik kecilku yang telah tujuh tahun ini dalam rengkuhan sang Maha Pencipta. Ah, gadis itu semakin membawaku pada kekaguman yang tak berujung saja. Membuatku menyadari bagaimana indahnya Tuhan mengukir paras itu. Aku tersentak begitu dering ponselku menyapa. Sebuah pesan singkat yang tiba-tiba singgah.


(Ibu)
“Ibu tuamu yang ringkih ini, merindukanmu, nak. Bisakah kau hampiri sejenak? Siapa tahu mungkin ini yang terakhir kalinya ibu tuamu ini merepotkan putra semata wayangnya.”



            Membaca pesan dari satu-satunya orang tuaku itu membuat ekspresi mukaku berubah total. Seberkas kekaguman yang sedetik lalu tersemat dalam raut wajahku ini, kini telah menghilang bak terhempas ombak. Berganti gurat kekhawatiran yang tiada dapat kulukiskan saat ini. Setidaknya hanya akulah putranya mungkin bisa membanggakannya untuk melanjutkan perjuangan mendiang ayahku yang telah sebelas tahun lalu dipanggil oleh-nya. Ibu sangat menginginkan aku menjadi seorang pelukis terkenal seperti halnya masa mudanya dulu yang telah terenggut nasib karena harus menikah muda dan tak bisa sekolah dibidang seni. Namun kini, aku harus pulang ke tempat dimana aku dilahirkan. Tempat dimana aku menggunakan air dan tanahnya untuk kehidupanku. Ya, aku harus segera menghadap ibu yang sangat ingin melihatku tersenyum.
            ‘Dan… gadis itu… aku harus meninggalkannya…’ batinku kecewa.
            Perjalanan yang cukup melelahkan dari jakarta menuju kampung halamanku tercinta ini. Aku langsung melesat menuju tempat tinggal ibuku dari bandara ‘Ngurah Rai’ Ini. Kesunyian di rumah sudah tercium bahkan sejak aku memasuki pendopo di depan rumah ini. Apa yang sedang terjadi? Dimana celoteh para keponakan-keponakanku yang selalu meramaikan istana tua yang selalu meneduhkan ini?
            Karena rasa penasaranku, aku segera memasuki rumah berdinding kuning gading itu dengan pintunya yang telah terbuka. Kudapati kedua kakak perempuanku telah beserta suami mereka yang duduk di sebelah ranjang yang disana telah terrebahkan tubuh tua wanita yang paling kucintai di dunia ini. Tubuh tua ibu telah lemah terbaring disana. Matanya menatap sayu padaku sembari mengalirkan sinar bening. Aku tak sampai hati memandangnya. Ibu, andai aku selalu disampingmu. Sejak kini, aku tak akan meninggalkanmu lagi. Janjiku dalam hati.
            Setelah melihat kondisi ibu, aku tak mungkin meninggalkannya. Namun, tanpa kusengaja bayangan gadis bermata sayu yang telah sekian lama singgah dan menyapa kebekuan hatiku, tak terasa tiba-tiba terlintas. Aku tersadar dari lamunanku. Aku tahu, ini keserakahanku. Aku harus bisa memilih diantara dua wanita yang sangat kucintai di dunia ini. Aku berpikir sejenak, tak kusangka sudah enam bulan aku tinggal di samping ibu, menemaninya, mewujudkan apa yang ia inginkan. Masih pantaskah aku berharap untuk dapat kembali ke jakarta untuk menemui sosok yang telah lama ini mengusik ketenangan hatiku. Jauh dalam hati harus kuakui bahwa aku merindukannya. Kulihat kembali album gambar hasil tanganku pribadi. Kubuka lembar demi lembar, tanpa kusadari semua gambar disana adalah dia. Ya, raut yang selalu menjebakku dalam pesonanya. ‘masih bisakah aku bertemu dengannya? Bisakah aku merengkuh indahnya?’. Dalam hati kecilku masih mengharap akan hadirnya sosok yang meneduhkan itu dalam hidupku. Aku hanya dapat berandai tak berkesudahan selama hariku tanpanya.
            2 tahun kemudian…
            Kumasuki bangunan yang sudah kutinggalkan empat semester lalu. Berharap mutiara yang ada di dalamnya masih dapat kugapai. Ya, gadis itu, yang selalu memenjaraku dalam kekaguman padanya. Namun aku cukup tahu bahwa tak semua yang kita inginkan selalu terjadi sesuai dengan kenyataannya. Kusadari itu sejak mendengar ucapan dari pelayan café ini yang selalu membantuku menyerahkan sketchku padanya, “mungkin dia sedang indah memandang seluruh hasil yang selalu anda berikan padanya. Mari kuantar.” Ujarnya seraya mengajakku menuju tempat yang damai. Ya, disinilah gadis manis yang mampu mengisi hatiku saat ini. Sebelum pelayan itu meninggalkanku bersama gadis ini, tak lupa ia memberiku sepucuk surat. Setelah itu kusampaikan terima kasihku padanya.
            Aku bersamanya saat ini, bersama nisan yang menjadi penanda keberadaan terakhirnya di dunia ini. Sudah sejak setahun lalu dia mendiami tempat ini. Kuusap nisan itu berkali-kali seakan-akan aku dapat membelainya. Andai saja dapat kulakukan itu sejak dulu. Penyesalan ini akan menjadi penyesalan yang tak berujung karena telah meninggalkannya. Kharir, nama yang tertera di nisan ini, entah mengapa sangat pahit tiap kali kubaca. Mengapa aku tak bisa memanggil nama itu meski hanya sekali. Aku menyesal tiada henti. Lalu aku teringat surat itu.
“Teruntuk kau yang selalu menyapaku bersama senyap mengiringi…
            Ingin rasanya hati ini tersapa riuh rindang suaramu, namun apalah daya. Aku hanya bisa diam bersama tumor yang telah singgah dalam tubuh kecilku ini. Pun denganmu yang selalu setia mengirimiku sketch dari liukan tinta yang indah itu… terimakasih, aku begitu ingin rasanya menyampaikan secara langsung terimakasihku ini. Namun, hanya ini yang kubisa. Berharap kau bisa menerima terimakasihku meski hanya dengan selembar kertas lusuh ini.
            Maaf, aku tak bisa mengantar segelas latte yang selalu kau pesan meskipun itu sekali. Aku hanya bisa meraciknya bersama segenap rasa dalam hatiku yang tak kuketahui sejak kapan tersemat padamu. Dan lagi, Terimakasih atas karya-karyamu selama ini yang selalu membuatku bertahan. Ingin rasanya aku menunggumu kembali memandangku bahkan hingga senja datang. Aku merindukan tatapan yang selalu kau tujukan padaku itu meski aku tak dapat membalasnya meski itu hanya sekali. Sekali lagi, rasanya ingin kuucapkan terimakasihku kepadamu saat kau kembali nanti. Namun, tumor ini menginginkanku segera kembali pada-Nya.
            Sekali lagi, maaf, karena hanya torehan tinta kecil ini yang kubisa saat ini. Semoga ini dapat menyampaikan segala apa yang kurasa. Selamat tinggal.”

            Aku membacanya bersama isak yang tiada henti. Namun tiba-tiba kurasa angin bertiup kencang senja ini. Mendinginkan jiwaku yang hanya berteman sepi. Aku masih dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Tanpa kusadari, aku melihat bayangan di seberang, gadis berwajah pucat tersenyum manis di depanku seraya melambaikan tangannya. Hafna…” lirihku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar