Seberkas Rindu Yang Terabai
Aku
melihatnya siang ini. Kibaran rambutnya tertiup angin nakal yang menyembulnya.
Sayang, pemiliknya enggan mengekspose
kecantikan alaminya. Dia juga menghentikan pendidikannya sejak ia kehilangan
orang tuanya. Hei, lihatlah aku, bukankah ini terdengar seperti aku selalu
menguntitnya karena mengetahui tentangnya? Begitu bukan?
Ya,
aku memang sudah cukup lama mengagumi sosok ini. Entahlah sejak kapan dan
karena apa, aku tidak begitu mengingatnya. Tapi kini, aku yakin akan dentuman
jantung yang tak beraturan ini saat melihat gadis pemilik mata sayu itu. Mata yang
tampak sayu namun di dalamnya menyimpan penuh makna. Bukan makna yang bisa
diartikan sekedar saja. Namun arti yang lebih dari semua itu, lebih dari apa
yang dapat orang lihat. Makna yang bahkan tak kasat mata. Aku… sangat tinggi
menyematkan kekaguman ini padanya.
Sudah
sejam lebih aku terduduk disini, dengan segelas latte yang menemaniku sejak
kutancapkan pantatku di kursi anyam ini. Dari tempat inilah aku dengan leluasa
memperhatikannya. Gerak itu…. Diam itu… senyum itu… aku sangat menyukai segala
tentangnya. Bahkan murungnyapun aku selalu mengabadikannya. Namun, tak pernah
ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya, atas diamnya dan bahasa
tubuh yang tenang itu.
Dia
seorang barista di café yang sering kusinggahi ini. Hh, bahkan aku lupa bahwa
aku belum menceritakannya sejak tadi bukan? Aku hampir saja terlupa hanya
karena terlalu hanyut pada perasaan ini. Di ruang bernuansa coklat ini, aku
bukan hanya diam meski hanya duduk tak bersuara. Tanganku masih dengan asyik
meliuk-liukkan pensil untuk menyelesaikan sketch
yang selalu kubuat setiap kali datang. Terkadang aku menitipkan hasil karyaku
untuknya. Setidaknya agar dia tahu kecenderunganku padanya. Namun dia bukan
orang yang peduli akan hal itu. Kupikir, dia bukan orang yang akan respect pada rasa yang mungkin
dinilainya abal-abal ini. Yah, aku cukup mengerti itu, pun menghargai itu.
Tempo
hari, seorang pelayan yang selalu kutitipi lukisan untuk kuserahkan padanya,
menanyakan padaku mengenai kesungguhanku. “ah, semestinya kau tahu sebanyak apa
kekuranganku dan sebaik apa dia. Aku hanya seorang pemuja rahasia, baginya.”
Begitulah aku menjawabnya. Dia hanya tersenyum lantas kembali bekerja setelah
menyajikan segelas latte untukku.
Entahlah,
rasa yang dititipkan Tuhan untukku telah terlalu lama kupelihara. Sehingga aku
berlarut-larut dalam diam yang tak berkesudahan. Aku bukan naïf dengan terus
memendam perasaan ini sendiri. Hanya saja, aku ingin menjaga i’tiqad dari
perasaan ini. Ingin rasanya kudatangi rumahnya dan menyampaikan salam resmiku
untuk kedua orang tuanya. Hanya saja, bukankah sudah kukatakan bahwa ia telah
tak beribu dan berayah. Dia seorang diri bertahan untuk menyambung hidupnya.
Tanpa ia tahu, ia juga telah menyelamatkan hidupku yang harus menyematkan
perasaan itu untuknya. Entah, aku belum cukup tahu tentang apa yang ia ingin
gapai di dunia ini. Karena tak ada alasan yang logis baginya untukku
mengenalnya lebih jauh. Apalagi dia bukan sembarang orang yang bisa dengan
mudah didekati. Bagiku dia barang suci yang hanya boleh disentuh ketika ada
kehalalan yang mengiringi nantinya. Aku masih memimpikannya. ‘jiwa yang tak pernah lupa kurindu, tunggu
aku menyetarakan diri denganmu.’ batinku yang masih menggerutu dalam hati.
Kerap
kali kudengar tetanggaku yang berada di desa menasehati anaknya, “nanti cari
istri yang berhijab. Agar terjaga aurat dan fitrahnya.” Setidaknya aku sering
kali mendengarnya. Namun, jika kutelisik ulang, apakah hijab menjadi tolak ukur
keimanan seseorang? Bahkan diera yang serba modern ini, banyak sekali ditemui
wanita berhijab hanya untuk mengikuti trend mode atau bahkan mendekati zina
dengan mengabaikan hijabnya itu. Kupikir, masih banyak lagi hal yang perlu
direnungkan tentang perkataan tetanggaku itu. Setelah kurenungkan itulah,
kurasa hijab bukanlah tolak ukur untuk fitrahnya seseorang.
Aku kembali
mendatanginya setiap kali pulang dari jam kerjaku. Singgah sejenak untuk melepas
lelah dan menyandarkan penat selama bekerja seharian penuh. Melihat teduh
wajahnya sesekali mengingatkanku pada mendiang adik kecilku yang telah tujuh
tahun ini dalam rengkuhan sang Maha Pencipta. Ah, gadis itu semakin membawaku
pada kekaguman yang tak berujung saja. Membuatku menyadari bagaimana indahnya Tuhan
mengukir paras itu. Aku tersentak begitu dering ponselku menyapa. Sebuah pesan
singkat yang tiba-tiba singgah.
(Ibu)
“Ibu tuamu yang ringkih ini, merindukanmu, nak. Bisakah kau
hampiri sejenak? Siapa tahu mungkin ini yang terakhir kalinya ibu tuamu ini
merepotkan putra semata wayangnya.”
Membaca
pesan dari satu-satunya orang tuaku itu membuat ekspresi mukaku berubah total.
Seberkas kekaguman yang sedetik lalu tersemat dalam raut wajahku ini, kini
telah menghilang bak terhempas ombak. Berganti gurat kekhawatiran yang tiada
dapat kulukiskan saat ini. Setidaknya hanya akulah putranya mungkin bisa
membanggakannya untuk melanjutkan perjuangan mendiang ayahku yang telah sebelas
tahun lalu dipanggil oleh-nya. Ibu sangat menginginkan aku menjadi seorang
pelukis terkenal seperti halnya masa mudanya dulu yang telah terenggut nasib
karena harus menikah muda dan tak bisa sekolah dibidang seni. Namun kini, aku
harus pulang ke tempat dimana aku dilahirkan. Tempat dimana aku menggunakan air
dan tanahnya untuk kehidupanku. Ya, aku harus segera menghadap ibu yang sangat
ingin melihatku tersenyum.
‘Dan… gadis itu… aku harus meninggalkannya…’
batinku kecewa.
Perjalanan
yang cukup melelahkan dari jakarta menuju kampung halamanku tercinta ini. Aku
langsung melesat menuju tempat tinggal ibuku dari bandara ‘Ngurah Rai’ Ini. Kesunyian
di rumah sudah tercium bahkan sejak aku memasuki pendopo di depan rumah ini.
Apa yang sedang terjadi? Dimana celoteh para keponakan-keponakanku yang selalu
meramaikan istana tua yang selalu meneduhkan ini?
Karena
rasa penasaranku, aku segera memasuki rumah berdinding kuning gading itu dengan
pintunya yang telah terbuka. Kudapati kedua kakak perempuanku telah beserta
suami mereka yang duduk di sebelah ranjang yang disana telah terrebahkan tubuh
tua wanita yang paling kucintai di dunia ini. Tubuh tua ibu telah lemah
terbaring disana. Matanya menatap sayu padaku sembari mengalirkan sinar bening.
Aku tak sampai hati memandangnya. Ibu,
andai aku selalu disampingmu. Sejak kini, aku tak akan meninggalkanmu lagi.
Janjiku dalam hati.
Setelah melihat kondisi ibu, aku tak mungkin
meninggalkannya. Namun, tanpa kusengaja bayangan gadis bermata sayu yang telah
sekian lama singgah dan menyapa kebekuan hatiku, tak terasa tiba-tiba terlintas.
Aku tersadar dari lamunanku. Aku tahu, ini keserakahanku. Aku harus bisa
memilih diantara dua wanita yang sangat kucintai di dunia ini. Aku berpikir
sejenak, tak kusangka sudah enam bulan aku tinggal di samping ibu, menemaninya,
mewujudkan apa yang ia inginkan. Masih pantaskah aku berharap untuk dapat
kembali ke jakarta untuk menemui sosok yang telah lama ini mengusik ketenangan
hatiku. Jauh dalam hati harus kuakui bahwa aku merindukannya. Kulihat kembali
album gambar hasil tanganku pribadi. Kubuka lembar demi lembar, tanpa kusadari
semua gambar disana adalah dia. Ya, raut yang selalu menjebakku dalam
pesonanya. ‘masih bisakah aku bertemu
dengannya? Bisakah aku merengkuh indahnya?’. Dalam hati kecilku masih
mengharap akan hadirnya sosok yang meneduhkan itu dalam hidupku. Aku hanya
dapat berandai tak berkesudahan selama hariku tanpanya.
2 tahun kemudian…
Kumasuki bangunan yang sudah kutinggalkan empat semester
lalu. Berharap mutiara yang ada di dalamnya masih dapat kugapai. Ya, gadis itu,
yang selalu memenjaraku dalam kekaguman padanya. Namun aku cukup tahu bahwa tak
semua yang kita inginkan selalu terjadi sesuai dengan kenyataannya. Kusadari
itu sejak mendengar ucapan dari pelayan café ini yang selalu membantuku
menyerahkan sketchku padanya,
“mungkin dia sedang indah memandang seluruh hasil yang selalu anda berikan
padanya. Mari kuantar.” Ujarnya seraya mengajakku menuju tempat yang damai. Ya,
disinilah gadis manis yang mampu mengisi hatiku saat ini. Sebelum pelayan itu
meninggalkanku bersama gadis ini, tak lupa ia memberiku sepucuk surat. Setelah
itu kusampaikan terima kasihku padanya.
Aku bersamanya saat ini, bersama nisan yang menjadi
penanda keberadaan terakhirnya di dunia ini. Sudah sejak setahun lalu dia
mendiami tempat ini. Kuusap nisan itu berkali-kali seakan-akan aku dapat
membelainya. Andai saja dapat kulakukan itu sejak dulu. Penyesalan ini akan
menjadi penyesalan yang tak berujung karena telah meninggalkannya. Kharir, nama
yang tertera di nisan ini, entah mengapa sangat pahit tiap kali kubaca. Mengapa
aku tak bisa memanggil nama itu meski hanya sekali. Aku menyesal tiada henti.
Lalu aku teringat surat itu.
“Teruntuk kau yang selalu menyapaku bersama senyap
mengiringi…
Ingin
rasanya hati ini tersapa riuh rindang suaramu, namun apalah daya. Aku hanya
bisa diam bersama tumor yang telah singgah dalam tubuh kecilku ini. Pun
denganmu yang selalu setia mengirimiku sketch dari liukan tinta yang indah itu…
terimakasih, aku begitu ingin rasanya menyampaikan secara langsung terimakasihku
ini. Namun, hanya ini yang kubisa. Berharap kau bisa menerima terimakasihku
meski hanya dengan selembar kertas lusuh ini.
Maaf, aku
tak bisa mengantar segelas latte yang selalu kau pesan meskipun itu sekali. Aku
hanya bisa meraciknya bersama segenap rasa dalam hatiku yang tak kuketahui
sejak kapan tersemat padamu. Dan lagi, Terimakasih atas karya-karyamu selama
ini yang selalu membuatku bertahan. Ingin rasanya aku menunggumu kembali
memandangku bahkan hingga senja datang. Aku merindukan tatapan yang selalu kau
tujukan padaku itu meski aku tak dapat membalasnya meski itu hanya sekali. Sekali
lagi, rasanya ingin kuucapkan terimakasihku kepadamu saat kau kembali nanti.
Namun, tumor ini menginginkanku segera kembali pada-Nya.
Sekali lagi,
maaf, karena hanya torehan tinta kecil ini yang kubisa saat ini. Semoga ini
dapat menyampaikan segala apa yang kurasa. Selamat tinggal.”
Aku membacanya bersama isak yang tiada henti. Namun
tiba-tiba kurasa angin bertiup kencang senja ini. Mendinginkan jiwaku yang
hanya berteman sepi. Aku masih dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Tanpa
kusadari, aku melihat bayangan di seberang, gadis berwajah pucat tersenyum
manis di depanku seraya melambaikan tangannya. “Hafna…” lirihku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar