Minggu, 11 Juni 2017

Contoh Proposal Penelitian "Pengaruh Pendidikan Seks untuk Remaja terhadap Remaja Berpacaran" (Studi Eksperimen di kelas X MA Al Amien)

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1        Latar Belakang Masalah
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin (adolescere) (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 2012, h. 206). Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Dimana pada masa ini akan terjadi perubahan fisik, emosional, sosial dan mental. Pada masa ini anak masih cukup labil dalam meyakini berbagai hal, sehingga kerap kali terjadinya penyimpangan sosial dalam berbagai bidang juga terjadi pada masa remaja ini.
Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2007, h.20)
Menurut Piaget (121) dalam Hurlock (2012) menjelaskan bahwa secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkat yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. … Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber.… Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok… Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan social orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Mardliya  dalam www.kulonprogokab.go.id menjelaskan bahwa memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan seksual, maka remaja akan dihadapkan pada keadaan yang memerlukan penyesuaian untuk dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh akan sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. (http://www.kulonprogokab.go.id/v21/files/SEPUTAR-PERKEMBANGAN-PSIKOLOGIS-REMAJA.pdf)
Pada masa ini, remaja memiliki minat-minat akan berbagai hal, salah satunya minat pada simbol status. Dimana simbol status itu sendiri merupakan simbol prestise yang menunjukkan bahwa orang yang menyandang status tersebut lebih berhak atas suatu hubungan yang dimilikinya, termasuk status berpacaran.
Menurut Guerney dan Arthur (Dacey & Kenney, 1997) pacaran adalah aktifitas sosial yang membolehkan dua orang yang berbeda jenis kelaminnya untuk terikat dalam interaksi sosial dengan pasangannya yang tidak ada hubungan keluarga. Menurut Erickson (dalam Santrock, 2003) pengalaman romantis pada masa remaja dipercaya memainkan peran yang penting dalam perkembangan identitas dan keakraban. Pacaran pada masa remaja membantu individu dalam membentuk hubungan romantis selanjutnya dan bahkan pernikahan pada masa dewasa. Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan pacaran adalah upaya mengenal karakter seorang yang dicintai, dilakukan dua orang yang berbeda jenis kelamin yang belum menikah dan tidak memiliki hubungan keluarga. (http://www.landasanteori.com/2015/09/pengertian-pacaran-definisi-pada-remaja.html)
Jika pacaran hanya diartikan sebagai upaya pengenalan karakter dua orang yang tidak saling berikatan darah dengan didasari rasa cinta, mungkin tidak akan membawa pengaruh yang cukup buruk bagi remaja. Saat ini, yang parah adalah remaja mengartikan hubungan pacaran disetarakan dengan hubungan pernikahan. Pada masa remaja sudah sewajarnya remaja merasa bahwa dirinya berhak atas aktivitas orang dewasa karena mereka merasa bukan lagi anak-anak. Namun, mereka belum cukup tahu pula bahwa dirinya juga bukan orang dewasa, melainkan pada masa peralihan.
Parahnya lagi, dalam www.antaranews.com disebutkan bahwa Sebanyak 19 persen dari 300 remaja Surabaya yang diteliti empat mahasiswa ITS menganggap wajar berciuman saat berpacaran dan 36 persen juga menganggap wajar bila berpelukan saat berpacaran. Dari penelitian tersebut, dapat  diketahui bahwa pola berpacaran remaja saat ini sudah cukup mengkhawatirkan.
Karena itulah, penyusun memilih tema “Pengaruh Pendidikan Seks untuk Remaja terhadap Perilaku Remaja Berpacaran”.

1. 2       Rumusan Masalah
1)    Apakah pendidikan seksual berpengaruh pada perilaku remaja yang berpacaran

1. 3       Tujuan Penelitian
1)    Untuk mengetahui apakah ada pengaruh pendidikan seksual terhadap perilaku remaja yang berpacaran

1. 4       Manfaat Penelitian
a.     Bagi Penulis
´  Mengetahui sejauh mana pendidikan seksual berpengaruh pada perilaku remaja
´  Memenuhi tugas mata kuliah psikologi eksperimen
b.    Bagi Remaja
´  Mengendalikan diri dari emosi sesaat yang mungkin saja terjadi dalam hubungan berpacaran
´  Menjaga sikap dan perilaku meskipun menjalin hubungan dengan lawan jenis
´  Lebih berhati-hati dalam bergaul
´  Dapat memilih jalan yang benar dalam hal pergaulan
c.     Bagi Orangtua
´  Memahami putra-putri nya dalam hal pergaulan dan perkembangannya
´  Dapat lebih mengontrol pergaulan putra-putri nya



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1        Pendidikan Seks (di sekolah)
Pendidikan seks adalah upaya pengajaran, dan pemberian informasi tentang masalah seksual. Informasi yang diberikan di antaranya pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, komitmen, agama agar tidak terjadi “penyalahgunaan” organ reproduksi terssebut. Itu sebabnya , pendidikan seks dapat dikatakan sebagai cikal bakal pendidikan kehidupan berkeluarga yang memiliki makna sangat penting. Para ahli psikologi menganjurkan agar anak-anak sejak dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seks yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaan mereka.
     Pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksualnya dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang.

2. 2       Remaja dan Pacaran
2. 2. 1         Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin (adolescere) (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 2012, h. 206). Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Dimana pada masa ini akan terjadi perubahan fisik, emosional, sosial dan mental. Pada masa ini anak masih cukup labil dalam meyakini berbagai hal, sehingga kerap kali terjadinya penyimpangan sosial dalam berbagai bidang juga terjadi pada masa remaja ini.
Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2007, h.20).

2. 2. 2         Pacaran
Menurut Wikipedia pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi individu-individu dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh agama dan kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Menurut persepsi yang salah, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah melakukan aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan yang akhirnya fornikasi dilakukan oleh pasangan yang berpacaran. (https://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran)

2. 3       Hipotesis
Ada pengaruh pendidikan seks untuk remaja terhadap perilaku remaja berpacaran.
BAB III
METODE PENELITIAN
3. 1        Tipe dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian controlled field experiment, dimana pengontrolan pada variabel sekunder tidak secara ketat.
Desain untuk penelitian ini menggunakan pre-test post-test control group design, dimana akan ada tes untuk kelompok eksperimental sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Kelompok kontrol juga akan menerima tes sebelum dan sesudah kelompok eksperimental menerima perlakuan.
3. 2        Subjek Penelitian
3. 2. 1         Populasi
Penelitian ini diberlakukan untuk kalangan yayasan Al Amien saja karena terkait dengan budaya yang ada di lingkungan tersebut. Dimana MA ini dibawah naungan pondok pesantren Al Amien itu sendiri.
3. 2. 2         Sampel
Sampel dari penelitian ini, diambil dari siswa tingkat SLTA kelas X yang menyandang status berpacaran dengan metode Simple Randomize (S-R).

3. 3       Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MA Al Amien, Sabrang, Ambulu, Jember, dan dilangsungkan pada proses belajar mengajar siswa menggantikan beberapa mata pelajaran yang sedang berlangsung dengan izin dari pihak sekolah.

3. 4       Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpuan data dengan cara pengisian questionnaire dan wawancara.

3. 5       Definisi Operasional Variabel
Edukasi pendidikan seks di definisikan sebagai cara yang digunakan oleh para orang tua muda untuk menyampaikan betapa pentingnya hal itu di zaman sekarang dalam upaya menacapai tujuan memelihara tegaknya nilai-nilai moral, guna mengatasi gangguan-gangguan psikis dikalangan remaja, guna memberi pengetahuan orang tua dalam menghadapi perkembangan anak-anak dan lain sebagainya.

3. 6       Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan sesuai dengan urutan berikut ini:
´  Pembagian sample menjadi dua kelompok, dimana kedua kelompok tersebut adalah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
´  Pengumpulan data awal, dengan pengisian questionnaire dan wawancara (baik wawancara secara personal kepada responden ataupun kepada guru kelas dan teman responden)
´  Pre-test
´  Randomisasi : memberikan perlakuan pada kelompok eksperimen dan tanpa perlakuan pada kelompok kontrol
´  Post-test
´  Analisis Data

3. 7       Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah t-test.

Rabu, 17 Mei 2017

Tugas Identifikasi Jurnal

TUGAS
“IDENTIFIKASI JURNAL EKSPERIMENTAL BERJUDUL PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP KOMPETENSI INTERPERSONAL DENGAN TEMAN SEBAYA PADA SISWA SD”
Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Eksperimen

Dosen Pengampu:
Dr. Laurensius Laka, M.Psi

Oleh:
Aprilia Kartika Sari
201569110007
Revi Ayunda Indriani
201569110039
Ilmi Rohmatul M.
201569110041
Rohmatul Isna
201569110050

PROGRAM STUDI ILMU PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN
2017



Topik               : Permainan Tradisional
Masalah           : Apakah permainan tradisional dapat mempengaruhi kompetensi interpersonal dengan teman sebaya pada siswa Sekolah Dasar (SD)
Hipotesis         :
Ø  Ada perbedaan kompetensi interpersonal dengan teman sebaya yang signifikan pada kelompok eksperimen, antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan.
Ø  Ada perbedaan kompetensi interpersonal dengan teman sebaya yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sesudah diberi perlakuan.

Variabel
Variabel Bebas: Permainan Tradisional
Ø  Variasi             : Ada – Tidak Ada, Subjek yang diberikan perlakuan (permainan tradisional) dan yang tidak diberikan perlakuan.
Ø  Manipulasi       : Manipulasi kejadian, dengan cara memberikan permainan tradisional pada kelompok eksperimen dan tidak memberikan permainan tradisisonal pada kelompok kontrol
Variabel Terikat: Kompetensi Interpersonal
Ø  Jenis Pengukuran : Perilaku yang tampak
Ø  Cara Pengukuran :
Variabel Sekunder:
Keluarga
Kognisi sosial
Jenis kelamin
Partisipasi sosial
Budaya
Tipe dan Desain Penelitian
Tipe Penelitian            : Penelitian lapangan
Desain penelitian         : Pre-test Post-test control design

Perencanaan penelitian
Subjek             : Anak sekolah dasar yang berusia tujuh hingga sembilan tahun, memiliki kompetensi interpersonal dalam kategori sedang hingga rendah berdasarkan pembagian lima kategorisasi.
Peralatan         : Skala Psikologi (Tes Kompetensi Interpersonal), Lapangan, alat tulis
Prosedur          :
Ø  Pembagian sample menjadi 2 kelompok (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol)
Ø  Pengumpulan data awal :
1.      Pengisian questionnaire
2.      Wawancara guru kelas
Ø  Pre-test
Ø  Randomisasi
Perlakuan pada kelompok eksperimen dan tanpa perlakuan pada kelompok kontrol.
Ø  Post-test
Ø  Analisis Data

Pelaksanaan     : Pelaksanaan penelitian sesuai dgn prosedur yg telah ditentukan sebelumnya.
Analisis Hasil : Hasil analisis data menggunakan teknik statistik nonparametrik dengan uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan perubahan skor kompetensi interpersonal pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah diberi perlakuan dengan nilai signifikansi yang kurang dari taraf nyata (p = 0,001 < 0,05). Skor pre-test antara kelompok eksperimen dan kontrol yang diuji menggunakan teknik Mann-Withney U Test menunjukkan bahwa perbedaan skor tidak signifikan (p =0,924 > 0,05). Hasil ini membuktikan bahwa kompetensi interpersonal subjek baik kelompok eksperimen maupun kontrol relatif sama sebelum perlakuan diberikan. Setelah perlakuan diberikan, terdapat perbedaan yang signifikan pada skor post-test antara kelompok ekperimen dan kelompok kontrol (p = 0,000 < 0,05). Subjek yang mendapat perlakuan memiliki kompetensi intrepersonal yang lebih tinggi dibandingkan subjek yang tidak mendapatkan perlakuan. Kompetensi interpersonal yang lebih tinggi ditunjukkan dengan adanya peningkatan skor post-test pada kelompok eksperimen.

Kesimpulan       : Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan permainan tradisional memiliki pengaruh dalam meningkatkan kompetensi interpersonal anak sekolah dasar.

Analisis data menggunakan teknik statistik nonparametrik dengan uji wilcoxon dan Mann-Withney U Test.


Senin, 15 Mei 2017

Intervensi Terapi CBT (Cognitive Behavior Therapy) atau Terapi Tingkah Laku

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1            Latar Belakang
Pendekatan kognitif dan behavioral atau yang lebih dikenal dengan nama cognitive-behavioral therapy menjadi suatu praktek yang terkenal dalam psikologi konseling. Sebagai contoh lebih dari setengah fakultas dan praktisi didunia berdasarkan survey mendapatkan pengaruh besar dari pendekatan kognitif dan behavioral, disamping itu mereka juga mejadikan pendekatan ini sebagai pendekatan yang mereka gunakan pertama atau kedua dalam orientasi pendekatan mereka. Walaupun teori ini telah muncul beberapa tahun yang lalu akan tetapi semua komponen yang ada relevan dengan keadaan sekarang. Pada mulanya pendekatan kognitif dan behavioral adalah pendekatan yang berdiri sendiri.Keduanya memiliki pandangan sendiri terhadap manusia, bahkan memiliki metode terapi yang berbeda pula.
Pendekatan Behavioral muncul berasal dari B.F Skinner dengan teori kondisi pengoperan. Kemudian pendekatan behavioral ini menjadi pendekatan yang populer pada masa 1960-an. Pada tahun 1970-an pendekatan behavioral mendapatkan pengaruh dari teori kognitif. Bandura merupakan salah seorang yang pertama kali menggunakan konsep pendekatan Kognitif-Behavioral.Pendekatan Kognitif-Behavioral memiliki pandangan bahwa seorang individu memiliki perilaku yang dipengaruhi oleh kondisi internal (kognitif).Berdasarkan hal tersebut, terapi Kognitif-Behavioral menekankan bahwa perubahan tingkah laku dapat terjadi jika seorang individu mengalami perubahan dalam masalah kognitif.Terapi dalam pendekatan Kognitif-Behavioral merupakan gabungan dari terapi yang ada pada pendekatan Kognitif dan pendekatan Behavioral.

1. 2            Rumusan Masalah
a)      Apakah yang dimaksud dengan intervensi?
b)      Apa saja bentuk intervensi klinis?
c)      Apa saja rangkaian intervensi?
d)     Apa yang dimaksud Cognitive Behavior Therapy (CBT) atau Terapi Perilaku Kognitif?
e)      Apa tujuan terapi CBT?
f)       Apa yang dimaksud Model ABCDE?
g)      Apa yang dimaksud Rekaman Pikiran Disfungsional?
h)      Apa yang dimaksud terapi gelombang ketiga?
i)        Apa saja kelebihan dan kekurangan CBT?

1. 3            Tujuan Penulisan Makalah
a)      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan intervensi.
b)      Untuk mengetahui bentuk intervensi klinis.
c)      Untuk mengetahui rangkaian intervensi.
d)  Untuk mengetahui definisi Cognitive Behavior Therapy (CBT) atau Terapi Perilaku Kognitif.
e)      Untuk mengetahui tujuan terapi CBT.
f)       Untuk mengetahui Model ABCDE.
g)      Untuk mengetahui Rekaman Pikiran Disfungsional.
h)      Untuk mengetahui terapi gelombang ketiga.
i)        Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan CBT.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Definisi Intervensi
Intervensi adalah upaya untuk mengubah perilaku, pikiran, atau perasaan seseorang (Markam, 2003).dapat dilakukan oleh profesional/ terapis bidang lain (tidak harus  psikolog).Intervensi klinis merupakan suatu kegiatan yang dilakukan klinisi untuk mengubah perilaku atau keadaan sosial dengan sengaja sesuai tujuan yang dikehendaki.Bentuk intervensi klinis: psikoterapi, rehabilitasi psikososial, & preventif.Salah satu intervensi dalam konteks hubungan professional antara psikolog dan pasien adalah psikoterapi.

2.2              Bentuk Intervensi Klinis
Beberapa bentuk intervensi klinis adalah sebagai berikut:
a)      Rehabilitasi Psikososial
Alternatif intervensi yang berusaha memberikan informasi bagi keluarga/ pasien mengenai masalah/ gangguan yang dialami; membantu pasien memahami, mengurangi/ mencegah munculnya masalah terkait dengan situasi sosial;  atau membantu pasien menormalkan/ mengoptimalkan kembali kualitas hidup mereka terutam di lingkungan sosial. Contoh rehabilitasi psikososial: Melatihkan coping stress pada mantan pecandu narkoba; terapi okupasi pada penderita skizofrenia residual; melatihkan pada keluarga penderita skizofrenia mengenali simtom psikotik.
b)      Intervensi Preventif
Caplan (1964), membagi level (3) pencegahan pada masalah kesehatan mental:
a.       Pencegahan Tersier
Usaha mencegah konsekuensi jangka panjang ataupun jangka pendek dari keparahan gangguan yang dialami penderita. Rehabilitasi psikososial  salah satu contohnya.
b.      Pencegahan Sekunder
Usaha pencegahan pada kelompok individu beresiko (high risk population). Level ini akan efektif apabila: menangani faktor pengetahuan pada kelompok resiko tertinggi pada gangguan secara spesifik; penanganan pada kelompok beresiko yang paling mudah dijangkau.
Tujuan: memberikan pengetahuan kepada kelompok beresiko,screening awal, imunisasi/ vaksinasi.
Misal: pembinaan reproduksi sehat pada calon TKW, imunisasi polio pada balita.
c.       Pencegahan Primer
Usaha yang dilakukan untuk mengurangi/ membatasi laju timbulnya gangguan dengan melakukan modifikasi lingkungan atau memperkuat individu agar terhindar menjadi resiko tinggi. Subjeknya komunitas umum.
Tujuan:  Melawan faktor resiko (counteracting risk facto
Memperkuat faktor pengaman (reinforcing protective factor)
Misal: Konseling pra-nikah, penyuluhan anti-flu burung. (Coie, dkk, 1993).
Lima metode dalam level pencegahan primer :
1)             Meningkatkan kelekatan yang aman & mengurangi kekerasan dalam rumah tangga.
2)             Mengajarkan keterampilan kognitif & sosial.
3)          Merubah lingkungan menjadi lebih mendukung berkembangnya perilaku adaptif.
4)             Meningkatkan keterampilan dalam mengelola stres.
5)  Mempromosikan pemberdayaan kelompok masyarakat, dengan membantu masyarakat mengendalikan & mengurangi resiko berkembangnya gangguan mental (perubahan sosial)
Misal: mengatasi kemiskinan, mengatasi bayi lahir dengan cacat fisik, memberikan kesempatan yang sama bagi etnis minoritas.
c)      Psikoterapi
Psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan (treatmen) terhadap permasalahan yang sifatnya emosional, dimana seorang terapis secara sengaja membina hubungan profesional dengan klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah, atau memperlambat simtom untuk menghilangkan pola perilaku terganggu, serta meningkatkan perkembangan pribadi ke arah yang positif.
2.3              Rangkaian Intervensi
Rangkaian perjalanan terapi oleh Hokanson (phares dan trull, 2001):
1.             Pertemuan awal, tahap yang menentukan kelancaran dan keberhasilan tahap selanjutnya. Menjelaskan secara umum keberadaan terapi dan jenis bantuan yang diberikan.
2.             Asesmen, prosedur asesmen dipilih berdasarkan sifat dari problem klien, orientasi dari terapis atau faktor-faktor lain. Pengumpulan informasi klien dapat diambil melalui pemberian berbagai macam tes psikologi.
3.             Tujuan treatmen, klien dan terapis mulai mendiskusikan masalah dengan sistematis dan melakukan apa yang diperoleh dari masalah-masalah yang telah terdata asesemennya.
4.             Implementasi treatment, dalam hal ini terapis memutusakan bentuk terapi secara khusus, yang diharapkan klien mulai dipercayakan dapat menghadapi problem secara independen.
5.             Terminasi, evaluasi, dan tindak lanjut,  terapi mengumpulkan data dan membuat catatan tentang kemajuan klien untuk mengevaluasi usaha dan pelayanan mereka.
2.4              Definisi Cognitive Behavior Therapy (CBT) atau Terapi Perilaku Kognitif
Aaron T. Beck (1964) mendefinisikan CBT sebagai pendekatan konseling
yang dirancang untuk menyelesaikan permasalahan konseli pada saat ini dengan cara melakukan restrukturisasi kognitif dan perilaku yang menyimpang. Pedekatan CBT didasarkan pada formulasi kognitif, keyakinan dan strategi perilaku yang
mengganggu. Proses konseling didasarkan pada konseptualisasi atau pemahaman
konseli atas keyakinan khusus dan pola perilaku konseli. Harapan dari CBT yaitu
munculnya restrukturisasi kognitif yang menyimpang dan sistem kepercayaan untuk membawa perubahan emosi dan perilaku ke arah yang lebih baik.
Bush (2003) mengungkapkan bahwa CBT merupakan perpaduan dari dua
pendekatan dalam psikoterapi yaitu
cognitive therapy dan behavior therapy. Terapi kognitif memfokuskan pada pikiran, asumsi dan kepercayaan.Terapi kognitif memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah kesalahan.Terapi kognitif tidak hanya berkaitan dengan positive thinking, tetapi berkaitan pula dengan happy thinking. Sedangkan Terapi tingkah laku membantu membangun hubungan antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan.Individu belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat.
2.5              Tujuan Terapi CBT
Secara sederhana, tujuan terapi kognitif adalah berpikir logis. Lagi pula, kata cognition (kognisi), pada dasarnya sinonim dengan kata thought (pikiran). Jadi, terapis kognitif pada dasarnya mengasumsikan bahwa cara kita memikirkan tentang berbagai kejadian menentukan cara kita merespons. Dengan kata lain, “interpretasi dan persepsi individu-individu tentang situasi, peristiwa dan masalah saat ini mempengaruhi bagaimana mereka bereaksi” (Beck, 2002, hlm. 163). Masalah psikologis timbul dari kognisi yang tidak logis. Oleh sebab itu, peran terapis kognitif adalah untuk membenarkan pemikiran yang keliru (Bermudes, Wright & Casey, 2009; Clark, Hollified, Leahy & Beck, 2009; Dobson, 2012; Dobson & Dobson, 2009). (Pomerantz, 2013, hlm. 441)
2.6              Model ABCDE (Albert Ellis)
Salah satu kontribusi Ellis yang paling abadi dan sangat abadi dan sangat berguna secara klinis adalah Model ABCDE untuk memahami dan mencatat dampak kognisi pada emosi (juga dikenal sebagai Model ABC). Di dalam Model ABCDE, A, B, C mempresentasikan model tiga langkah yang dideskripsikan diawal bab ini: Kejadian menghasilkan pikiran, yang pada gilirannya menghasilkan perasaan. Model Ellis sekedar menggantikan ketiga istilah ini dengan istilah yang lebih mudah diingat: peristiwa pengaktif (Activating event) (A), keyakinan (Belief) (B), konsekuensi emosional (emotional Consequence) (C). Menurut Ellis, keyakinan irasional beracun karena berfungsi sebagai tuntutan dogmatik yang kaku yang kita terapkan pada diri kita sendiri. Meskipun ini mungkin adalah preferensi-preferensi yang kuat, tetapi faktanya, mereka bukan “keharusan” atau aturan tersebut. Di samping itu, kita cenderung menyertai tuntutan ini dengan estimasi yang terlalu tinggi tentang konsekuensi kegagalan. Ketika mengoreksinya, Ellis melihat logika yang salah di semua pernyataan-diri ini dan juga mengenai kesempatan untuk mendapatkan manfaat terapeutik.
Untuk menyelesaikan ini, model Ellis menambahkan dua langkah lagi, D dan E. Di dalam modelnya, D adalah singkatan untuk perdebatan (dispute), dan E adalah singkatan untuk keyakinan baru yang efektif (effective new belief). Secara spesifik, keyakinan irasional (B) adalah target perdebatan. Model Ellis bukan hanya membantu klien mengidentifikasi keyakinan-keyakinan yang tidak rasional  (B) yang mungkin memperantarai kejadian dalam hidupnya (A) dan perasaan yang kemudian dirasakannya (C); ini juga mendesak klien untuk menantang keyakinan tersebut. Ini dapat menjadi pengalaman yang memberdayakan bagi klien yang telah telah terperangkap dalam rangkaian ABC yang membuatnya terus-menerus merasa tidak bahagia, cemas, dan sebagainya. Ketika mereka menyadari bahwa pengalaman itu tak perlu berhenti di C (perasaan yang tak diinginkan), maka mereka berhak untuk menantang keyakinan yang menyebabkan C dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih rasional, maka manfaat terapeutik pun bekerja.

2.7              Rekaman Pikiran Disfungsional (Aaron Beck)
Salah satu bagian terpenting dari teori depresi Beck adalah gagasannya tentang tiga serangkai kognitif, ia mengatakan bahwa tiga kognisi – pikiran tentang diri sendiri, dunia luar dan masa depan – semuanya berkontribusi pada kesehatan mental kita. Beck berteori bahwa ketiga keyakinan ini negatif, maka akan menghasilkan depresi (Alford & Beck, 1997; Beck, 1995). (Tautan Web 15.3 Judith Beck)
Esensi pendekatan kognitif Beck, seperti halnya pendekatan Ellis, adalah meningkatkan tingkat berpikir logis klien. Pendekatan Beck memasukkan sebuah cara untuk mengorganisasikan pengalaman-pengalaman klien ke dalam kolom-kolom pada sebuah halaman tertulis. Di dalam terapi kognitif Beck, format ini dikenal sebagai Rekaman Pikiran Disfungsional (misalnya, Beck, 1995, 2002; Freeman dkk, 1990; Leahy, 2003), dan meskipun judulnya sedikit berbeda dengan akronim ABCDE Ellis, fungsi mereka serupa. Biasanya dalam sebuah Rekaman Pikiran Disfungsional termasuk kolom-kolom untuk:
·         Deskripsi singkat tentang kejadian/situasinya,
·         Pikiran-pikiran otomatis tentang kejdian/situasi itu (dan sejauh mana klien meyakini pikiran-pikiran tersebut),
·         Emosi (dan intensitasnya),
·         Respon adaptif (mengidentifikasi distorsi di dalam pikiran otomatis)
·         Hasil (emosi setelah respon adaptif diidentifikasi dan seberapa jauh klien masih meyakini pikiran otomatis tersebut).
2.8              Terapi Gelombang Ketiga (Terapi Berbasis Perhatian dan Penerimaan)
Selama beberapa tahun terakhir, sebuah bentuk terapi baru yang didasarkan pada perhatian dan penerimaan telah menjadi kian populer dan didukung secara empiris (Hayes, Villatte, Levin, & Hildebrant, 2011; Masuda & Wilson, 2009).Secara kolektif, mereka sering disebut “terapi gelombang ketiga”yang merujuk pada evolusi dari behaviorisme (gelombang pertama), ke terapi kognitif (gelombang kedua) ke terapi-terapi lebih baru ini (Follete, Darrow, & Bonow, 2009; Hayes, 2004). (Pomerantz, 2013, hlm. 460-461)
Perhatian merupakan inti dari terapi-terapi gelombang-ketiga (Dimidjian & Linehan, 2009; Hayes, Villate, dkk., 2011; Shapiro, 2009). Germer (2005) dalam Pomerantz (2013) menyebutkan bahwa “Definisi perhatian… adalah (1) kesadaran,  (2) tentang pengalaman saat ini, (3) dengan penerimaan”.
Dalam Pomerantz (2013) dijelaskan bahwa perhatian mendorong keterlibatan penuh seseorang dengan proses-proses mental internalnya sendiri dengan cara nonkonfrontasional. Inilah perbedaan kunci dengan terapi-terapi kognitif Albert Ellis dan Aaron Beck yang lebih tradisional.Sementara Ellis dan Beck mendorong orang-orang untuk menentang dan merevisi pikiran mereka, tetapi berbasis-perhatian lebih pada mengubah hubungan dengan orang-orang dengan pikirannya dan bukan pada pikiran itu sendiri (Olatunji & Feldman, 2008).Jadi, alih-alih berhubungan dengan pikiran sebagai penentu mutlak atas realistis atau kebenaran, klien dapat belajar untuk memahami pikiran mereka sebagai sugesti-sugesti yang cepat berlalu yang mungkin sama sekali tidak membutuhkan banyak reaksi.Setelah hubungan dengan pikiran diubah dengan cara ini, individu mungkin akan merasa lebih mudah untuk menghadapi pikiran (atau perasaan atau sensasi) yang tidak menyenangkan, dan bukan menghindari mereka. Artinya, alih-alih untuk terlibat untuk menghindari pengalaman, seperti yang diistilahkan oleh para terapis gelombang ketiga, individu dapat terlibat di dalam penerimaan: membiarkan pengalaman internal itu berjalan tanpa melawannya.Ini dapat memfasilitasi perubahan positif bagi klien-klien dengan beragam masalah psikologis (Dimidjian & Linehan, 2008; Farmer & Chapman, 2008; Roemer & Orsillo, 2009).
Macam-macam terapi CBT adalah sebagai berikut:
1.      Terapi Penerimaan dan Komitmen
Menurut Hayes dalam Pomerantz (2013)terapi penerimaan dan komitmen (acceptance and commitment therapy; ACT) adalah pengalaman psikologis internal, seperti emosi, pikiran, dan sensasi (Bach & Moran, 2008; Hayes, 2004; Hayes & Strosahl, 2004). Terlalu sering terjadi keadaan saat individu-individu yang bergulat dengan masalah psikologis belum mampu menerima kejadian pribadi ini, tetapi sudah buru-buru menghindarinya melalui pengalihan perhatian. Penghindaran pengalaman semacam ini dapat mendasari semua jenis masalah psikologis (Eifert & Forsyth, 2005). Sedikit mirip fobia, tetapi objek yang ditakuti ada di dalam diri individu, bukan di luar dirinya. Penghindaran adalah sebuah mekanisme penanganan yang lazim tetapi tidak menolong. Jadi, di dalam konteks ini, penerimaan berarti menghadapi ketakutan internal. (Tautan Web 15.4 Website mengenai Steven Hayes.)
Hayes (2004) dalam Pomerantz (2013) menyajikan dua metafora yang mengklarifikasi prinsip-prinsip dasar penerimaan dalam ACT. Di dalam metafora pertama, ia meminta kita untuk membayangkan pikiran-pikiran kita sebagai sebuah parade (pawai). Di dalam parade ini kita adalah penonton, bukan peserta. Menurut Hayes, semakin lama kita dapat mengakui pikirn-pikiran kita tanpa bereaksi, semakin besar pula peluang kesejahteraan psikologis kita. Di dalam metafora kedua,  Hayes membandingkan proses menerima pengalaman internal dengan melompat dari tangga, bukan menuruninya. Menuruni anak tangga terasa lebih aman, katanya, karena kita senantiasa menjaga kendalinya. Melompat dari tangga menyerahkan seluruh kendali pada gravitasi. Klien, menurut Hayes, perlu “latihan melompat” dalam kaitannya dengan pikiran, perasaan dan sensasi mereka. Artinya, sedikit demi sedikit, mereka perlu berhenti berjuang untuk menjaga kontrol atas pengalama-pengalamannya dan percaya bahwa kemanapun pengalaman membawa mereka, mereka akan mampu mendarat dengan aman dan tetap pada jalur yang semestinya.

2.      Terapi Perilaku Dialektis
Terapi perilaku dialektis (Dialectical Behavior Therapy;DBT) secara khusus dikembangkan oleh Marsha Linehan untuk menangani gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder; BPD)(Koerner & Dimeff, 2007; Linehan,1993a, 1993b). Penanganan ini telah mencapai tingkat dukungan empiris yang cukup kuat, sehingga ia sekarang dianggap sebagai penanganan pilihan untuk BPD, dan dalam bentuk yang sudah diadaptasi juga digunakan untuk gangguan-gangguan lain (Koerner & Dimeff, 2007; Kliem, Kroger & Kosfelder, 2010; Lynch, Trost, Salsman & Linehan, 2007; Paris, 2009). (Tautan Web 15.5 Web mengenai Marsha Linehan.)
Linehan (1993b) memasukkan empat modul latihan keterampilan spesifik di dalam DBT. Secara kolektif, mereka berkaitan erat dengan komonen-komponen inti DBT yang dideskripsikan di atas, tetapi sebaiknya mereka dideskripsikan sebagai strategi-strategi pemecahan masalah yang diajarkan terapis kepada klien. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah:
·                Regulasi emosi, yang melibatkan identifikasi, pendeskripsian, dan penerimaan dan bukan menghindari emosi-emosi negatif;
·                Toleransi kesusahan, yang menekankan pengembangan teknik-teknik menenangkan diri dan pengembangan impuls untuk membantu klien-klien dengan BPD meminimalkan perilaku-perilaku seperti usaha bunuh diri, menyakiti diri sendiri dan penyalahgunaan obat;
·                Efektivitas interpersonal, yang membantu klien menentukan keterampilan-keterampilan ketegasan sosial dengan tepat untuk mempertahankan hubungan yang mungkin akan dirusak oleh ledakan-ledakan emosional yang ekstrem; dan
·                Keterampilan perhatian, yang mendorong klien untuk terlibat penuh di dalam kehidupan mereka saat ini, termasuk pengalaman-pengalaman internal mereka, seperti perasaan, pikiran, sensasi, tanpa penghindaran dan evaluasi.
3.      Terapi Metakognitif
Dalam Pomerantz (2013) disebutkan Ide utama di dalam praktik terapi metakognitif yang relative baru adalah bahwa peristiwa pengaktif tersebut bisa jadi adalah kognisi itu sendiri, bukan kejadian eksternal tertentu. Mudahnya, orang-orang dapat menjadi depresi, cemas atau tidak sehat secara psikologis karena reaksi terhadap  pikirannya sendiri dan bukan reaksi terhadap hal-hal yang terjadi pada dirinya (Fisher & Wells, 2009; Wells, 2009). Jadi, kemungkinan penyebab ketidakbahagiaan kita adalah pikiran tentang pikiran sama besarnya dengan pikiran tentang kejadian eksternal.
Terapi metakognitif  sering menyebut sindrom atensi kognitif (cognitive attentional syndrome; CAS), sebuah istilah yang mendeskripsikan sebuah gaya berpikir yang murung, banyak merenung, dan problematik yang dapat mendasari banyak masalah psikologis. CAS termasuk dua tipe pikiran spesifik tentang kekhawatiran, positif maupun negatif – dan kedua-duanya menimbulkan masalah. Keyakinan positif tentang kekhawatiran mungkin saja berbunyi seperti ini, “Khawatir akan membantuku memepersiapkan diri untuk masa depan. Kalau aku tidak khawatir, aku bisa dibutakan oleh sesuatu. Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah berhenti khawatir”. Keyakinan negatif tentang kekhawatiran mungkin saja berbunyi seperti ini, “Oh, tidak, aku sudah mulai khawatir. Begitu mulai, aku tidak pernah bisa menghentikannya. Ini akan menjadi hari yang buruk. Kekhawatiran ini betul-betul tak terkendali”. Apapun peristiwa eksternal awalnya pikiran kliententang kejadianitu dapat memupuk dengan cepat, sedemikian rupa sehingga bukan hanya pikiran-pikiran tentang kejadian tersebut, tetapi pikiran tentang pikiran mengenai kejadian tersebut bisa menjadi pemicu kecemasan yang paling relevan. Oleh sebab itu, terapis metakognitif menjadikan pikiran-tentang-pikiran sebagai fokus utama intervensi mereka.
Terapi metakognitif telah diterapkan terutama pada gangguan kecemasan, termasuk gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stress pascatrauma, dan gangguan kecemasan tergeneralisasi. Meskipun merupakan penanganan yang relative baru, bukti-bukti untuk efektivitasnya untuk gangguan-gangguan ini telah mulai tampak (Clark & Beck, 2010; Fisher & Wells, 2008; Wells & King, 2006).

4.      Terapi Kognitif untuk Masalah Medis
Hubungan antara pikiran dan tubuh dapat sangat mempengaruhi bagaimana individu menangani masalah medis.  Yang paling menarik bagi terapis kognitif adalah keyakinan-keyakinan yang dipegang oleh pasien medis tentang penyakit, cedera atau kondisi mereka.
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak studi telah menunjukkan bahwa terapi kognitif dapat memiliki efek yang menguntungkan secara signifikan pada proses penyembuhan dan pada akhirnya prognosis pasien medis. Sebagai contoh, Jakes, Hallam, McKenna dan Hinchcliffe (1992) menelaah efek terapi kognitif pada pasien-pasien tinnitus, sebuah masalah pendengaran yang melibatkan persepsi suara-suara yang berlebihan. Sebagian pasien ini menjalani bentuk terapi kognitif singkatyang mengoreksi keyakinan tidak logis mereka tentang penyakit tersebut. Dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapat bagian terapi kognitif ini, mereka yang menerimanya memperlihatkan kemajuan dalam tingkat penderitaan mereka terhadap tinnitus.

2.9              Kelebihan dan Kekurangan CBT
Kelebihnnya yaitu :
·         Dapat mengukur kemampuan interpersonal dan kemampuan sosial seseorang
·         Membangun keterampilan sosial seseorang
·         Keterampilan komunikasi atau bersosialisasi
·         Pelatihan ketegasan
·         Keterampilan meningkatkan hubungan
·         Pelatihan resolusi konflik dan manajemenagresi,
·         Tidak berfokus pada satu sisi saja ( tidak hanya perilaku) tetapi juga dalam kognitif seseorang
Sedangkan kekurangannya yaitu :

  • Hanya mengukur dan mengatahui kondisi pada saat itu, selain itu membutuhan waktu yang relatif lama.

Link ppt:
https://www.scribd.com/presentation/348416042/Psi-Klinis-Intervensi-CBT